Bukti Nyata dan Dokumentasi Aksara Sunda Kuno

Naskah Aksara Sunda Kuno

Aksara104 Dilihat

Aksara Sunda kuno | Pallawa Lanjut adalah gaya dasar penulisan Naskah Aksara Sunda kuno. Bentuk aksaranya mirip dengan prasasti Tibet dan Punjabi (Band. Hole 1877) yang memuat catatan tipologi dan jejak prasasti Truman Nagar sebelum mencapai tahap transformasi. Teks ini ditemukan dalam manuskrip kuno Sudan tentang palem dan bambu dari abad ke-14 hingga abad ke-18.

Naskah-naskah yang mengunakan aksara Sunda kuno di antaranya tersimpan di Perpustakaan Nasional RI, Jakarta, yaitu: Carita Parahyangan, Fragmen Carita Parahyangan, Carita Ratu Pakuan, Sri Ajnyana, Purnawijaya, Sangyang Raga Dewata, Sanghyang Hayu, Sanghyang Siksa Kandang Karesian, Serat Buwana Pitu, Serat Catur Bumi, Séwaka Darma, Amanat Galunggung, Darmajati, Jatiniskala, Sanghyang Sasana Maha Guru, Tutur Buwana, dan Sanghyang Swawar Cinta; di Museum Negeri Sri Baduga Jawa Barat, Bandung, yaitu Pantun Ramayana dan beberapa naskah lainnya di Kabuyutan Ciburuy, Garut, antara lain: Séwaka Darma, Kawih Katanian, Pantun Ramayana, Bima Swarga dan kumpulan Mantra.

Identifikasi K.F. mengungkapkan bahwa Holley (1882) untuk prasasti dan manuskrip Sunda kuno (khususnya koleksi PNRI saat ini) digunakan untuk libretto modern Ute de Soenda-Landen en Knit Mir dan libretto modern 1500 Jar ad Tatar. Bahasa Sunda tidak ada selama lebih dari 1500 tahun. Oleh karena itu dapat dikatakan bahwa aksara Sunda kuno merupakan hasil kreativitas atau penemuan masyarakat Sunda. Aksara Sunda Kuna yang digunakan bersama dengan Aksara Sunda Kuno dalam naskah Sunda Kuno ditunjukkan pada gambar pada contoh di bawah ini.

    Aksara Sunda kuno

Naskah Kawih Panyaraman (Sewaka Darma) (dok. Perpusnas RI)

Aksara Sunda kuno

Naskah Pakeling (dok. Perpusnas)

Selain menggunakan bahasa Sunda Kuno untuk menulis bahasa Sunda Kuno juga digunakan untuk menulis bahasa Arab dan Jawa (Siribun) sehubungan dengan perkembangan syiar Islam di Tatar Sunda. Berikut adalah contoh skrip:

Aksara Sunda kuno

(v.1) Pangérra(n) Sumanagara, titi. Asahhadu sahé karbanyar suci alhhéka rasululah, banyu suci metu saking ti mulah karsa allah- (v.2) hu, hing dina saptu. Usali parilan anglalohor ri areba urakatin adaan imaman lilah ita alah, (Allah) huhabar. U(sa)li parelan (v.3) asri areba urakaatin adaan (imaman) lilah hita alah. Alah hu A(k)bar. Usali parelan magribi sarasa rakatin. (Foto dok. Tim Unicode Aksara Sunda)

Selain ditulis pada media daun lontar, aksara Sunda kuno juga dituliskan pada media bambu. Salah satu naskah jenis ini yaitu Sanghyang Jati Maha Pitutur. koleksi Perpusnas RI.

Aksara Sunda kunoSanghyang Jati Maha Pitutur (dok. Perpusnas)

Aksara Sunda kuno yang ditulis pada naskah yang dianggap paling muda ditemukan pada naskah Carita Waruga Guru. Naskah ini ditulis pada akhir abad ke-18 Masehi pada bahan kertas daluang.

Aksara Sunda kuno

Naskah Waruga Guru (foto dok. Tim Unicode Aksara Sunda)

Artikel dan sumber asli. : Website Kairaga

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *